About Us


  • JPA-flores is a community-based NGO in Maumere, on the island of Flores, Indonesia with a vision of a strong and fair economy in Flores founded upon ingenuity, self-reliance through co-operation and the wealth of natural resources.

    JPA-Flores adalah LSM di Maumere, Flores, dengan visi 'Ekonomi Flores yang adil dan kuat berlandaskan kecerdasan, kerjasama mandiri dan kekayaan sumber daya alam.'

    This site describes the steps the NGO is taking to achieve its goals, and how you can help by buying FAIRTRADE products and by making a donation to our appeal for funds.

    Biasanya setiap pesan akan diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia.

Main | Introduction »

Keterangan

Latar Belakang

Lembaga JPA-flores dibentuk oleh mantan staf PT Jamasatira; suatu perusahan perdagangan yang dimiliki oleh jaringan LSM di Flores. Staf mengundurkan diri dari Jamasatira karena risetnya yang luas mengunkapkan bahwa cara intervensi di pasar (dengan sasaran meningkatkan harga untuk petani) sudah mengalami kertakan. Di sisi lain, staf jenuh oleh sistem manajemen yang buruk dan aroma KKN maupun ketidaktransparanan petinggi jamasatira. Selanjutnya staf secara bersama-sama mengundurkan diri pada bulan Desember 2005 dengan rancangan mendirikan LSM baru, sesuai pengalamannya sekaligus merumuskan visi dan misi yang lebih bercahaya.

Visi JPA-flores adalah:

Ekonomi Flores yang adil dan kuat berlandaskan kecerdasan, kerjasama mandiri dan kekayaan sumber daya alam.

JPA-flores dirancang untuk memanfaatkan kecerdasan yang alami dari orang-orang lokal dan menyalurkannya ke dalam usaha yang produktif. Kegiatan ini utamanya akan diarahkan pada promosi pengembangan penghidupan berkelanjutan dan pengurangan pengangguran maupun kekurangan pekerjaan. Ini hendak dicapai melalui tindakan sebagai ‘jawatan informasi dan komunikasi’ (INFOKOM) untuk koperasi kota maupun desa, menjadi broker untuk rencana ‘Fairtrade’, dan menjadi semacam ‘inkubator’ (mesin tetas) untuk proyek yang menghasilkan pendapatan.

Misi JPA-flores adalah:


  1. Menjalin kerjasama perdagangan dengan semua pihak

  2. Menyebarkan informasi pasar untuk meningkatkan posisi tawar pelaku pasar

  3. Memberdayakan kemampuan pelaku ekonomi baik yank terpinggirkan maupun pelaku konvensional

  4. Menolak korupsi, kolusi dan nepotisme

  5. Menjaga kemitrasejajaran gender

Lembaga didirikan berdasar prinsip-prinsip:


  1. Kerjasama secara demokratis sesuai asas kekeluargaan dan nilai-nilai budaya masyarakat

  2. Management yang jujur, terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan

  3. Tidak diskriminatif terhadap: gender, orang cacat, anak yatim piatu, suku, ras dan agama

Umumnya, LSM mempunyai reputasi kurang baik di propinis NTT. Petani setempat mengkisahkan kepada kami bahwa: ‘LSM-LSM menjual kemiskinan supaya memperoleh uang untuk mereka sendiri’. Kesan ini, diperkuat dengan adanya kenyataan bahwa staf LSM menerima gaji cukup tinggi, mempunyai kendaraan, kunjungan di luar propinsi dan berbagai manfaat lain. Tekanan persaingan dengan sesama LSM dalam upaya menangkap dana untuk biaya tetap maupun biaya proyek lainnya, memaksa pegiat LSM menyadari dan mengutamakan apa yang menjadi kemauan donatur (biasanya dari luar negeri). Walaupun hal tersebut tidak selalu sesuai dengan kebutuhan masyarakat tertinggal.

JPA-flores tidak akan mencoba ‘menjual kemiskinan’ untuk tujuan mobilisasi sumber dana, tetapi akan menyampaikan gambaran yang lebih positif. JPA-flores percaya bahwa Flores didiami oleh orang-orang rajin yang kaya ide. Kemiskinan yang melilit lebih disebabkan oleh faktor struktural daripada ketidakcakapan atau ketidakpedulian mereka sendiri. Dibandingkan dengan negara berkembang lain, propinsi NTT mempunyai angka kemelekan huruf cukup tinggi, iklim politik yang stabil dan sumber daya alam yang berlimpah.

Salah satu persoalan utama dan menggelisahkan di Flores adalah ketidakberhasilan penggunaan sumber daya. Baik sumber daya alam maupun manusia. Pengangguran kronis menyebabkan pengasingan sosial dan meruntuhkan kewajiban budaya dalam keluarga yang selama ini dikenal sangat kokoh. Kegelisahan masyarakat diwujudkan oleh ketidakpeduliannya terhadap lingkungan alam. Strategis rumah tangga untuk mengurangi kemiskinan cenderung menyebabkan perusakan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek sesaat daripada kepentingan jangka panjang yang berkelanjutan. Kurangnya kemajuan mengenai kemitrasejajaran gender meninggalkan wanita yang trampil dan berbakat. Orang-orang trampil dan bermotivasi tidak diberi kesempatan untuk tampil menjadi pelaku ekonomi baru terhadang oleh kekurangan pekerjaan, akses modal, informasi pasar dan dukungan lainnya. Berberapa Koperasi pedesaan mencapai kemajuan untuk meningkatkan ekonomi pedesaan, tetapi mereka tidak punya cukup ketrampilan manajemen dan sering gagal merumuskan rencana bisnis yang masuk akal.

Ekomomi Flores diibaratkan seperti ‘ember bocor’. Uang dari penjualan hasil tanaman keras masuk, tetapi segera sesudah itu keluar lagi untuk alasan-alasan sebagai berikut:


  1. Petani harus membeli bahan pokok (beras, gula, minyak), semuanya didatangkan dari luar pulau.

  2. Perdagang yang mengambil untung dari perdagangan komoditi menanamkan sedikit saja dalam ekonomi setempat, karena kelangkaan peluang investasi di Flores.

  3. Ada pemintaan pasar yang belum dijawabkan di Maumere, karena pasar tidak berjalan lancar. Hal ini terbukti adanya beberap jenis barang kebutuhan pasar yang belum tersedia.

  4. Barang barang yang masuk dikendalikan oleh kartel (suatu gabungan perusahan yang bertujuan monopoli teristimewa dalam mangatur harga-harga) dan terbatas oleh kapasitas kapal mingguan dari Surabaya.

Oleh karena itu, andaipun harga berbagai komoditi naik, masih butuh waktu lama untuk dirasakan manfaatnya bagi eknomi Flores secara keseluruhannya, meskipun dampak di keluarga petani sangat positif. Demikian JPA-flores percaya bahwa keadaan di Flores membutuhkan intervensi dengan cakupan luas, dari ekokomi mikro hingga ekonomi makro.

Untuk menanggulangi hal-hal tersebut JPA-flores didukung oleh Oxfam New Zealand (ONZ) akan menyelengarakan projek sebagai berikut:

Kopi Fairtrade

Seperti kebanyakan wilayah tropis, Flores juga dirugikan oleh penurunan harga komoditi jangka panjang, khususnya untuk tanaman keras kunci semacam kopi, kakao, mente dan vanili. Gerakan internasional Fairtrade adalah salah satu cara untuk memaksa pasar agar dapat berlaku secara lebih sesuai dengan kemauan petani, dengan memberanikan konsumen untuk membayar harga yang lebih tinggi dan dibayar langsung kepada koperasi petani. Walaupun rencana ini terkenal baik di Afrika dan America Selatan, namun ini Indonesia gagal diterapkan, sebagian besar karena kapasitas kebanyakan koperasi sangat rendah.

ONZ mempunyai hubungan yang baik dengan perusahan kopi Fairtrade di NZ dan Australia yang hendak berbisnis di Indonesia. JPA-flores akan menjalin hubungan dengan koperasi yang cocok dan mencari kopi dengan mutu baik. Kopi ini akan diantar ke mitra kami, PT Rerolara (perusahan yang dimiliki oleh gareja Katolik Flores Timur), yang mempunyai tempat pengolahan kopi yang baik di Flores. Proyek ini akan melibatkan pengembangan kapasitas para koperasi dan petani, karena pada umumnya tingkat keterorganisasian petani rendah pada saat ini.

Kelompok tenun ikat

JPA-flores telah mengenali tiga kelompok tenun ikat yang perlu bantuan mendapat pasar untuk hasil produksinya dan meningkatkan teknis pengolahan. Tenun ikat (kain yang ditenun stop-dyed, pada umumnya dalam wujud sarung) adalah item kerajinan tangan tradisional di Flores dan dapat memperoleh harga mahal di Bali dan di luar negeri. Tetapi, penenun biasanya menjual hasil kerajinannya secara lokal dengan potongan harga yang cukup tinggi karena tidak sadar tentang nilai itu. Selanjutnya, ada pemintaan pasar untuk tenun ikat asli yang dibuat dengan teknik tradisonal dan apa adanya (kapas dipintal dengan tangan, zat warna alam yang diambil dari hutan, motif masa lampau dll.), dibandingkan versi yang modern. Tenun ikat asli menuntut harga lebih tinggi tetapi sifatnya padat karya dan pengendalian mutu yang rumit. Suatu lembar sarung ikat yang riil adalah suatu artifact (benda seni), dan nilainya tergantung ketrampilan penenun individu.

Kelompok tenun (seperti ‘STILL’ di Nita, yang mana suatu mitra kunci dari JPA-flores) mendorong wanita-wanita mahir mengerjakan bersama-sama dan berbagi ketrampilan mereka. Dengan bergabung bersama-sama mereka mengumpulkan biaya sumber produksi dan biaya pemasaran dan penyebaran, mereka dapat memperoleh pendapatan lebih baik untuk usaha ini. JPA-flores, dengan dana dari ONZ, akan kerjasama dengan kelompok tenun supaya meningkatkan kapasitas mereka, dan mengubah kelompok ke dalam bisnis yang sehat. Ada juga unsur Fairtrade pada kegiatan ini karena mungkin ada pasar untuk hasil tenun lewat jaringan toko Oxfam di Selandia Baru. Premi dari harga itu akan ditanamkan dalam proyek masyarakat yang memenfaatkan wanita-wanita lokal, misalnya penolakan kekerasan rumah tangga.

Proyek ternak

JPA-flores sedang menyelidiki kemungkinan terlaksananya proyek ternak (mungkin ternak kambing). Sasaran proyek ini supaya membangun usaha lokal yang berkelanjutan yang akan menyediakan tenaga-kerja, mengajar ketrampilan berternak dan memberi kuasa kepada kaum marginal untuk mangatur suatu pilihan hidup yang tidak biasanya terbuka bagi mereka dalam kaitan dengan kekurangan modal dan peluang.

Proyek masa depan

Jangka panjang JPA-flores akan menjadi semacam Business Development Service (BDS) (Lembaga yang melayani pengembangan usaha) untuk kegiatan sosial maupun perusahan yang mendatangkan laba. Ini akan terlaksana melalui tindakan sebagai ‘inkubator’ untuk gagasan bisnes baru dan peranan sebagai saluran di antara usaha skala kecil atau mikro (termasuk para petani) dan lembaga lain

Kegiatan ini bermaksud menggalang usaha swadana jangka panjang untuk lembaga, karena ketergantungan dari donator asing tidak menjamin rencana berkelanjutan. Untuk mencapai ini, JPA-flores merumuskan berbagai langkah pelayanan (dengan harga patut) yang dapat memperoleh pendapatan.

Kelompok Sasaran
JPA-flores mempunyai kelompok sasaran sebagai berikut:


  1. Orang-orang kota maupun desa tanpa pekerjaan atau kekurangan pekerjaan

  2. Kelompok masyarakat wanita

  3. Keluarga petani miskin dan terpinggirkan

Comments

The comments to this entry are closed.